Tuhan Nggak Mau Dimadu

By | May 10, 2017

Sedikit cerita, dan seperti biasa, cerita datang dari hidup saya sendiri (Oh ya, setelah baca artikel ini, jika Anda rasa bermanfaat, tolong share link artikel ini ke media sosial Anda ya). Sekitar sebulan yang lalu ada klien yang menghubungi saya, dia bilang, dia butuh kapal untuk keperluan pemuatan batubara di daerah Bengkulu–kebetulan bisnis utama saya adalah di bidang pelayaran dan logistik, jadi saya rasa dia sudah menghubungi orang yang tepat hehehe. Setelah beberapa saat orang tersebut menghubungi saya via telpon dan saya menyanggupi untuk menyediakan kapal untuk dia, keesokan harinya dia datang ke Balikpapan untuk survey kapal yang akan ia sewa. Saya sama sekali nggak menyangka, dia akan seserius itu. Pertama kali komunikasi dengan dia, saya hanya sebatas “Oh, okay, syukur kalo jadi, kalo nggak ya gapapa.”

Singkat cerita, negosiasi harga sudah berjalan dengan mulus, dan lebih dari itu, dia mempercayakan saya beserta tim untuk mencarikan muatan dari sekitaran Kalimantan untuk dibawa ke Bengkulu. Karena jika kapal yang ia sewa langsung berangkat menuju Bengkulu tanpa membawa muatan, akan menghabiskan banyak biaya untuk membeli bahan bakar.

Harga sudah sepakat, kini kontrak pun ditandatangani. Dana sudah ditransfer dan selanjutnya giliran saya beserta tim untuk mencarikan muatan untuk kapal yang klien saya sewa. Seminggu pertama, belum ada hasil. Sempat dapat tawaran muatan batubara yang rencananya akan kami angkut dari Samarinda ke Banten. Namun apa daya, setelah kami telusuri ke lokasi pemuatan, barang ternyata belum siap. Okay, saya pikir masih biasa untuk masalah seperti ini. Tetapi kondisi seperti itu terus berlanjut, banyak tawaran muatan, namun nihil hasil. Pemberi muatan bilang bahwa barang sudah siap, giliran kapal kami berangkatkan ke pelabuhan muat, apa yang terjadi saudara-saudara? ZONK! Barang belum siap hahaha. Saya stress bin bingung, sampai marah-marah sendiri. Asal Anda tahu, ketika itu saya mandi sambil lempar-lempar sikat gigi karena saking jengkelnya hahaha.

kehidupan

Pasrah, sepasrah-pasrahnya

Setelah emosi saya reda, saya coba berpikir. Menaikkan kesadaran. Saya coba ingat-ingat, kira-kira apa yang bikin kerjaan saya yang awalnya mulus banget, kini jadi berantakan bukan main. Setelah beberapa saat saya merenung, muncul satu ilham. Aha! Ternyata saya terlalu ngarep sama para pemberi muatan. Jleb! Saya ngerasa jadi manusia penuh dosa. Saya sudah menduakan Allah. Padahal yang ngasih rejeki kan Allah, kok berani-beraninya saya ngarep ke manusia. Durhaka saya hahaha.

Saya coba gali lebih dalam lagi tentang apa yang sanggup saya pelajari dari kejadian tersebut. Setelah saya pikir-pikir, ternyata seperti itu mekanismenya. Allah akan selalu menghancurkan tuhan-tuhan palsu, dan pada kejadian waktu itu, saya–secara tidak sadar–sedang menuhankan para pemilik muatan. Alhasil apa saudara-saudara? Semua rencana saya digagalkan hahaha. Miris ya? Ya begitulah konsekwensinya.

Lebih lanjut, atas dasar ‘tamparan’ yang Allah berikan kepada saya, akhirnya saya mengambil keputusan untuk pasrah sepasrah-pasrahnya. Mbuh lah, terserah mau dapet muatan dari siapa, yang mau dan serius ngasih muatan, pokoknya saya kasih syarat DP buat tanda jadi. Kalau nggak bisa ngasih DP ya kapal nggak bakal saya jalankan hehehe. Selain itu, langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah, saya buka kesempatan kepada siapa saja yang bisa memberi muatan ke kapal tersebut, dan saya tidak minta sepeserpun uang dari muatan tersebut (syukur-syukur kalau dapet hehehe). Dan Alhamdilillah, tak lama berita bahagia itu pun datang, si yang menyewa kapal malah dapat muatan sendiri hehehe. Saat tulisan ini saya tulis, kapal tersebut sedang melakukan proses muat. Oh ya, kapal itu sempat nganggur sekitar tiga minggu lho. Apa nggak gendeng?! Hahaha.

Okelah, jadi begitulah sedikit cerita dari saya. Hal yang akan selalu saya–dan mungkin Anda ingat adalah, pokoknya jangan pernah berharap sesuatu kepada selain Allah. Apalagi sama makhluknya. Jangan pernah! Udah, pokoknya berusaha saja sebaik-baiknya, biar Allah yang menentukan apa yang terbaik untuk kita. Satu lagi yang perlu kita ingat adalah, Tuhan yang sebenarnya–yaitu Allah, akan menghancurkan ‘berhala-berhala’ yang kita buat. Apa itu ‘berhala-berhala’ tersebut? Apapun yang kita cintai: uang, pasangan, anak, keluarga, klien bisnis, kendaraan, ego, dan status yang sedang tersemat di diri kita. Sekian.

Bantu share artikel ini ya 🙂

Salam,

Bayu Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *