Ketika Tujuan, (Ternyata) Bukanlah Tujuan

By | January 10, 2022

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya baru belajar tentang bisnis, saya pernah membayangkan, betapa kerennya ketika suatu saat nanti, saya bisa punya karyawan, perusahaan yang berbadan hukum, dan bisa kerja dengan santai, karena sudah ada karyawan yang mengerjakan pekerjaan teknis di bisnis saya.

Impian tersebut, benar-benar saya inginkan ketika itu. Setiap usaha yang saya lakukan, selalu saya usahakan agar dapat mengarah ke impian tersebut.

Belajar kesana-kemari, baca buku, ikut pelatihan, mentoring, dsb., saya lakukan, demi tercapainya impian tersebut.

Singkat cerita, tak lama berselang, alhamdulillah, ternyata Allah mengijabah doa dan impian saya tersebut.

Allah memberi saya persis seperti yang saya inginkan. Ketika itu, kondisi saya adalah, hampir setiap hari saya bersantai, dan uang begitu mudahnya masuk ke rekening saya, tanpa saya perlu bekerja di level teknis. MasyaAllah Tabarakallah.

Kebingungan

Kondisi yang ketika itu saya alami, ternyata hanya bisa saya nikmati dalam kurun waktu yang tidak lama. Bukan berarti tidak lama setelah itu bisnis saya menurun. Tetapi, malah justru sebaliknya. Saya makin santai, dan pendapatan bisnis pun ikut naik.

Yang saya maksud adalah, tidak lama setelah kondisi tersebut saya rasakan, saya merasa hampa, dan bertanya-tanya “Ternyata hanya seperti ini, ya, rasanya?”.

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyangkal nikmat yang Allah berikan. Tetapi, saya merasa ada yang tidak beres pada diri saya. Ketidakberesan tesebut adalah, mengapa nikmat yang saya rasakan, emosi gembira yang muncul dari pencapaian tersebut, hanya bertahan sebentar saja?

Fenomenanya sama seperti ketika kita punya barang baru. Di awal, kita merasakan betapa sangat gembiranya perasaan kita. Namun, tidak lama setelah itu, kita mulai terbiasa dengan barang tersebut, dan lama-kelamaan, kita kehilangan ketertarikan dengan hal tersebut.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata fenomena tersebut wajar. Karena, barang apapun yang awalnya baru, tentu lama-kelamaan akan menjadi barang lama, kan?

Nah, jika Anda pernah merasakannya (kehilangan kesukaan terhadap suatu barang), maka persis seperti itu lah yang saya rasakan terhadap yang saya dapatkan ketika itu.

Menemukan Pencerahan

Singkat cerita, kita tahu, bahwa pada awal tahun 2020-an, Pandemi Virus Covid-19 menyebar di seluruh dunia.

Hampir semua sektor bisnis (kecuali yang berhubungan dengan kesehatan), terkena dampaknya. Tak terkecuali bisnis saya.

Meskipun bisnis saya terkena dampak, omzet dan keuntungan sempat menurun. Namun, anehnya adalah, saya justru tidak merasakan ketakutan yang berlebihan. Rasa waspada tetap ada, namun perasaan-perasaan tersebut tidak begitu menguasai diri saya. Saya cenderung datar-datar saja.

Sampai di satu momen, saya pecah kongsi dengan partner-partner saya, entah mengapa saya juga merasa datar saja.

Dari serangkaian momen-momen tersebut, saya pun mendapatkan pencerahan. Ternyata apa yang jadi tujuan saya ketika awal berbisnis, bukan benar-benar tujuan yang saya inginkan. Sepertinya ketika itu saya hanya terpicu dari lingkungan. Bukan keinginan yang benar-benar saya inginkan. Itu yang pertama.

Yang kedua adalah, saya mendapatkan pencerahan (yang saya sarikan dari nasihat guru-guru saya), ternyata dunia atau hal-hal yang material itu, sifatnya hanya sementara dan berbatas. Memang benar, bahwa material dapat memberikan kita kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan, tetapi hanya sampai batasan tertentu.

Misalnya, ketika kita lapar, mungkin akan terasa sangat nikmat ketika makan pada porsi pertama. Namun, jika kita melanjutkan makan tersebut, hingga berporsi-porsi, kenikmatan makan yang awalnya kita rasakan, lama-kelamaan akan berkurang, hingga menghilang. Senikmat-nikmatnya makan, kita hanya dapat merasakan nikmatnya makanan hingga di batas tertentu.

Nah, ternyata, sifatnya dunia, ya, begitu. Berbatas.

Lebih lanjut, saya pun merenung, mencari ke dalam diri, apa yang sebenarnya menjadi tujuan saya?

Tentu saja, tujuan hidup saya di dunia adalah menghamba dan beribadah pada Allah, melalui ibadah ritual dan aktivitas yang saya lakukan sehari-hari. Itu sudah jelas. Tetapi, pertanyaan saya di atas adalah, tentang seperti apa saya ingin menjalani hidup ini? Apa aktivitas dan pencapaian-pencapaian yang benar-benar ingin saya dapatkan? Apa purpose yang sebenarnya ada di dalam diri saya.

Kesimpulan

Lantas, apa kesimpulan yang saya dapatkan dari fenomena tersebut?

Yang jelas adalah, saya sudah menemukan apa yang saya inginkan dan jadi tujuan saya. Ditambah, Allah menghadirkan seorang guru yang mau membimbing saya. Alhamdulillah.

Namun, yang ingin saya sampaikan di kesimpulan ini adalah, saya ingin berpesan kepada siapapun yang membaca tulisan ini. Bahwa, pencapaian materi yang mungkin pernah kita inginkan, ketika sudah didapatkan, ternyata tidak dapat memberikan kebahagiaan yang permanen. Karena itulah sifatnya dunia material.

Jangan sampai kita terjebak dalam pengejaran-pengejaran material yang tiada habisnya. Coba luangkan waktu untuk merenung, masuk ke dalam diri, kemudian bertanya, “Apa yang benar-benar aku inginkan?”, “Apa tujuanku?”, “Ingin seperti apa aku menjalani hidup?”. Yang ketika kita sudah menemukan jawabannya, insyaAllah hidup akan jadi bermakna, dan bahagia.

Semoga bermanfaat.

Salam #SadarBerdaya,

Bayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *